Motivasi untuk menumbuhkan kebiasaan baca buku
Membaca buku, seringkali dianggap sebagai sesuatu yang menjenuhkan, tak ada untungnya bagi sebagian kalangan yang belum merasakan efek terkecil dari membaca buku. Padahal hemat Saya, membaca buku itu bukanlah sekedar menikmati untaian kalimat yang tertuang di dalamnya. Tapi, ia mengandung berbagai ide yang begitu berbeda-beda, dalam setiap pemikiran penulisnya. Buku, merupakan cara kita untuk berpetualang di dunianya para penulis yang menyajikan beragam ide, mulai dari yang sesuai dengan pemikiran kita, bahkan hingga bertentangan sekalipun.
Sebagai seorang muslim, saya mencoba untuk merenungkan zaman dahulu di mana Islam benar-benar maju, menguasai peradaban. Banyak berbagai keilmuan yang berkembang di sana, mulai dari Sains, Fiqh, Tasawuf, dan lain sebagainya. Tapi, apakah kemajuan peradaban tersebut muncul secara tiba-tiba begitu saja? Tentu tidak. Mereka lahir, dari generasi yang gila akan membaca. Saking cintanya mereka terhadap Ilmu, ada berbagai macam kisah para 'Ulama yang saking khusyuknya, ada yang sampai jarang tidur dan sempat untuk makan pun tidak. Ada yang hingga dihidangkan makanan oleh pembantunya, 'Ulama tersebut mengatakan "Saya sedang sibuk sekarang", hingga akhirnya ia disuapi oleh Pembantunya dan tak sadar, bahwa 'Ulama tersebut sedang diberikan huapan makanan saking khusyuknya mencari ilmu.
Ya, bagi kita sebagai orang awam untuk menyamai kebiasaan mereka mungkin akan cukup sulit. Tapi, apa salahnya kita berusaha untuk mengupayakan kebiasaan baik yang telah dicontohkan oleh para 'Ulama tersebut? Maka dari itu, tulisan ringkas ini hadir untuk menyuguhkan bagaimana cara kita membangun kebiasaan diri dalam membaca buku. Simak uraian berikut di bawah ini!
A.Mulai dengan hal yang disukai
Untuk memulai minat dalam membaca, alangkah indahnya dimulai dengan membaca topik apapun yang kita suka. Ataupun dimulai dengan sarana yang paling dicintai. Misalnya, bila Anda cenderung nyaman membaca menggunakan handphone, maka Anda bisa memulainya dengan mencari e-book gratis dan legal yang bisa ditemukan di aplikasi Ipusnas, ataupun PDF gratis yang tersedia di google. Bahkan, Anda dapat membaca artikel-artikel, mulai dari artikel ilmiah di tingkat sinta 6 hingga scopus, ataupun membaca artikel populer seperti yang Saya tulis saat ini.
Jika Anda menyukai komik, silahkan baca komik sesering mungkin. Kebiasaan Anda dalam membaca begitu banyak komik, akan menemukan fase jenuh, di mana Anda merasa butuh untuk memulai bacaan yang baru, agar literasi Anda tak terbatas pada komik saja. Kalau Anda menyukai novel, Anda bisa membaca novel, sebanyak apapun. Walaupun komik ataupun novel, biasanya didominasi oleh tulisan yang merupakan hasil dari imajiner atau imajinasi kita, ia bukanlah sekedar imajinasi. Tapi, dari membaca novel pun kita dapat memahami berbagai perspektif atau sudut pandang yang orang lain rasakan, sehingga kita dapat lebih bijaksana saat menghadapi fenomena atau kejadian yang cukup sakral, atau penting, tidak dari sudut pandang kita saja.
Atau, yang paling terdekat khususnya bagi kaum yang suka scrolling media sosial seperti instagram, YouTube ataupun Facebook, tarolah Saya pengguna dominan insgtagram dalam keseharian. Biasakan apabila menemui sebuah postingan, yang terdapat tulisan aga panjang, apalagi berisikan tentang pengetahuan, Anda baca tulisan tersebut. Bacalah sesering mungkin, karena dari sana kebiasaan membaca Anda bisa dibangun.
Konklusi dari dampak sering membaca buku, atau membaca hal-hal yang Saya sebutkan di atas, pada akhirnya masing-masing dari kita akan menemukan masa jenuh, yang membuat kita ingin mencari hal-hal baru. Bisa jadi, yang awalnya kita hanya baca e-book komik, novel, caption atau postingan di media sosial yang memuat tulisan dengan penjelasan yang detail, bisa jadi nantinya akan beralih membaca buku-buku self improvement, atau bahkan buku-buku teologi, filsafat, sains, psikologi dan lain sebagainya.
B. Jadikan buku sebagai teman
Ketika kita berada di suatu tempat, baik di kamar, teras, balkon rumah, kelas, pasar, stasiun, terminal dan lain sebagainya, coba untuk membawa sebuah buku yang akan kita gunakan sebagai pengganti handphone, di sela-sela mengisi kebosanan atau keluangan waktu. Misalnya, ketika Anda sedang pergi ke sebuah tempat, atau tarolah main ke Cafe untuk sekedar ngopi, dan makan. Di sela-sela Anda menunggu pesanan diantar atau dihidangkan, Anda bisa menggunakan waktu kosong tersebut dengan membaca buku. Buku apapun itu, mau buku filsafat, teologi, novel, komik, dan lain-lain.
Atau ketika di lingkungan rumah, contoh di dalam kamar. Bila Anda mempunyai buku, berapapun jumlahnya, Anda bisa menyimpan buku tersebut di samping kasur. Selain ia yang tersimpan di samping kasur, Anda dapat menjadikannya sebagai sarana untuk membaca dan pengganti aktifitas Anda dalam menggunakan HP, yang cenderung membuat kita terlena, dan terjatuh dalam jurang doom scrolling. Ialah scrolling tanpa batas, tanpa tujuan yang jelas. Akibatnya, ketika Anda terlalu menerima informasi yang berlebihan, otak Anda akan sulit untuk menyerap informasi-informasi yang ada di dalam buku yang ingin Anda baca, serta keseharian Anda boleh jadi tidak produktif/tidak menghasilkan sesuatu yang baru.
Jadikan buku sebagai seorang teman, yang di mana ia dapat mengisi kesepian yang ada dalam hidup Anda. Ketika Anda merasa sedih, Anda bisa membaca buku-buku yang bisa menghibur Anda yang sedang sedih, hingga bisa kembali jadi senang. Ketika Anda ingin membaca buku-buku seputar penguat keimanan, Anda bisa membaca buku-buku agama. Ketika Anda ingin mendalami dunia perdebatan, carilah dan bacalah buku-buku yang menjelaskan bagaimana caranya kita berdebat, menemukan silang pendapat, menyusun argumen.
C. Atur waktu penggunaan media sosial
Pernah ga, kalian yang pada awalnya berencana melakukan sesuatu yang begitu penting, tapi diselingi dulu dengan membuka media sosial untuk sekedar mencari hiburan agar hidup terasa tidak hampa? Tentunya, Saya sebagai pengguna media sosial, manusia yang hidupnya tak melulu diisi dengan membaca, seringkali membuka media sosial. Tapi ironisnya, media sosial seringkali melalaikan Saya. Kenapa? Sebab, kita dapat menemukan sebuah kesenangan, yang cara didapatnya tak sulit, tapi begitu mudah. Misalnya ada memes yang membuat kita ngakak, atau video-video lucu. Hingga akhirnya, kita terus-menerus merasa penasaran akan hiburan-hiburan lain yang acak.
Oleh karena itu, membatasi penggunaan media sosial secara tegas terhadap diri sendiri itu cukup penting. Saya, misalnya ketika membatasi penggunaan media sosial, cenderung bisa memahami isi buku dengan mudah, lalu banyak kegiatan lain yang memang harus fokus, jadi tak terganggu. Atau, misalnya dalam menggunakan media sosial seperti instagram, biasanya ketika Saya sudah memiliki rencana untuk melakukan hal-hal lain seperti baca buku, Saya secara tegas langsung memaksakan diri untuk menutup media sosial, menutup HP, lalu membaca.
Bahkan, untuk menulis artikel inipun, Saya cenderung tegas pada diri agar tak menulis sambil scrolling. Sebab, fokusnya nanti akan beda, dan cenderung lebih banyak scroll daripada menulis. Nah, konteks ini memiliki keterkaitan dengan sub-bab sebelumnya, yaitu menjadikan buku sebagai teman. Ketika biasanya waktu kosong kita cenderung diisi dengan scrolling media sosial, kita alihkan dengan membaca buku. Itu kiranya, beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan kebiasaan dalam membaca buku.
D. Dijadikan sebagai kegiatan rutin
Walaupun dalam sehari, terbilang halaman yang Anda baca tidak banyak, tetap jadikan membaca buku sebagai agenda rutin, kegiatan yang tak terlewat sehari sekali. Dalam artian sama seperti shalat fardhu 5 kali dalam sehari, ia dijadikan sebagai agenda rutin karena kebutuhan kita akan shalat tersebut. Bila Anda menjadikan kegiatan membaca buku setiap hari sebagai agenda rutinan dan kebutuhan, pastilah ketika dalam sehari tak membaca buku, rasanya ada yang kurang dalam menjalani hidup ini.
Hal ini, telah dialami oleh Saya sendiri selaku penulis. Rasanya, walaupun dalam sehari tak begitu banyak membaca halaman buku, tapi Saya merasakan hati yang berkata "alangkah sia-sianya waktumu, bila dalam sehari, tak ada satu halaman pun isi buku yang kau baca". Dorongan hati tersebutlah yang membuat penulis dalam sehari-hari, menyempatkan waktu untuk membaca buku, walau halaman tak banyak. Sebisa mungkin dalam sehari, apapun bukunya ada yang dibaca. Baik itu self improvement, filsafat, teologi, logika, dan lain sebagainya.
Bahkan walaupun sekarang kita mendapati banyaknya buku-buku digital, pdf, atau artikel ilmiah yang dapat diakses secara mudah lewat gadget, rasanya mereka semua tak akan mampu menggantikan kenikmatan membaca akan buku-buku fisik. Feeling memegang kertas, mata yang memandang kertas berisikan untaian kalimat dari sang penulis, apalagi hawa-hawa saat mencium aroma kertas dalam kondisi buku yang masih baru dibeli hahahaha.
Saya pun berani bilang, mungkin beberapa pembaca juga merasakan kenikmatan yang berbeda, ketika membaca buku fisik diperbandingkan dengan membaca artikel populer yang saya buat ini. Memang, feeling dalam membaca buku fisik, bagi saya saat ini belum bisa tergantikan oleh apapun itu, baik postingan di media sosial seputar pengetahuan, e-book, artikel yang diakses melalui handphone/gadget.
Kesimpulan
Untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku kita memerlukan beberapa tahapan, memang tak ada segala sesuatu yang bisa kita peroleh secara instan. Mie yang namanya "Indomie instan" saja, dalam proses agar bisa dikonsumsinya saja memerlukan tahapan-tahapan, mulai dari menyiapkan peralatannya terlebih dahulu seperti mangkok, lalu apa itu nama alat yang digunakan untuk merebues mie, saya lupa. Intinya seperti itu.
Dalam membangun kecintaan kita akan dunia membaca buku pun sama demikian, kita memerlukan tahapan-tahapan agar bisa ada di fase itu. Mulai dari membiasakan diri untuk membaca seputar topik-topik yang paling kita sukai. Lalu, menjadikan buku itu sebagai teman disela-sela mengisi waktu kosong. Dilanjutkan juga dengan manajemen penggunaan media sosial yang kerap, melalaikan kita karena mendapat dopamine dengan cara yang begitu mudah, hingga akhirnya terjerumus ke dalam lubang "doom scrolling". Dan kegiatan tersebut dijadikan sebagai agenda rutin yang tidak bisa ditinggalkan, walau sekedar baca 1 paragraf, atau 1 halaman.
Demikian yang dapat disampaikan oleh Saya, semoga bisa menjadi manfaat yang baik untuk para pembaca sekalian. Tentunya, kritik dan saran saya begitu terbuka untuk menerimanya, mulai dari gaya kepenulisan dan lain-lain. Penyampaian kritik, Anda bisa sampaikan ke akun instagram berikut @kwkbi_ . Terimakasih!
Komentar
Posting Komentar