Refleksi atas Filsafat
*Renungan sederhana seputar esai ringkas tentang Filsafat karya M. Nuruddin*
Filsafat. Salah satu istilah, yang di Indonesia ini khususnya, mungkin masih menuai berbagai macam stigma negatif. Ketika ada obrolan yang berkaitan dengan filsafat, boleh jadi ia dianggap sesat, murtad, dan lain sebagainya. Bahkan, parahnya lagi ada pula yang dengan mudahnya mengatakan secara umum, bahwa orang yang berfilsafat itu tak mengetahui apa yang sedang dikatakan oleh dirinya sendiri.
Filsafat, seringkali dianggap sebagai ilmu yang begitu berbahaya. Kekeliruan berpikir semacam ini, sepatutnya tak boleh dinormalisasi. Apalagi saat itu, pernah muncul kejadian sekitar tahun 2004 di Kampus Negeri bernama IAIN Sunan Gunung Djati yang menyuarakan "anjing Hu Akbar". Fenomena tersebut, kian mempengaruhi stigma negatif masyarakat terhadap filsafat.
Puncaknya, pada tahun 2007, sumber yang saya dapat saat berbincang bersama seorang Dosen Fakultas Dakwah atau ntahlah, lupa. Beliau memberitahu kepada Saya, sebagai alumni Fakultas Ushuluddin. Dahulu, jurusan akidah dan filsafat di tahun 2007/2008 an, jumlah mahasiswa/I di sana cukup mencengangkan. Dalam 1 angkatan yang biasa kita ketahui, bisa terdiri dari 30 - 100 jumlahnya, di filsafat saat itu hanya terdiri dari 1 orang. Itupun seorang perempuan.
Ada asal-usulnya. Pada awalnya, jumlah 1 angkatan tersebut secara spesifik Saya lupa. Mungkin ada 10 orang lebih atau kurang. Tapi, singkat cerita beberapa dari mahasiswa tersebut ada yang keluar, pindah ke jurusan lain atau Universitas lain. Adapula mahasiswa yang saat itu wafat, karena sakit.
Singkatnya, mahasiswi tersebut berhasil menjadi seorang Sarjana, walaupun ia berkuliah seorang diri. Kesendirian, tak mematahkan semangatnya dalam mengejar gelar Sarjana. Begitu ironisnya kan? Lantas, bila merujuk pada buku _Ilmu Maqulat_ karya M. Nuruddin, faktor apa saja yang membuat filsafat itu dianggap negatif atau kian menerima stigma negatif dari sebagian besar masyarakat?
_Pertama_, bahasa yang terdapat dalam buku-buku yang membahas kefilsafatan cenderung mengandung berbagai istilah rumit. Bahasa kasarnya "diisi dengan bahasa-bahasa setan". Padahal, M. Nuruddin menuturkan kepada kita, bahwa sebetulnya pembahasan dari Filsafat itu tak begitu rumit. Hanya saja, karena para Filsuf dalam hidupnya sudah begitu terbiasa dengan berbagai kerumitan, mereka cenderung menyampaikan hal-hal yang mudah dipahami dengan istilah-istilah yang membuat pikiran menjlimet. Bahasa mudahnya, merumitkan hal yang mudah dipahami. Gagasan Filsafatnya mudah, tapi cara dari orang yang menyampaikannya jadi penentu istilah-istilah yang awalnya mudah menjadi rumit. Sehingga, terkadang Saya sendiri yang menulis renungan ini, merasa malas untuk baca buku-buku Filsafat, sebab saat sedang menikmati untaian kalimat yang tertulis, ada saja 1 kata yang rumit sudah membuat kenikmatan tersebut menjadi buyar, karena harus buka lagi referensi lain seperti KBBI, google atau chatGPT untuk memahami atau menyederhanakan istilah yang rumit tersebut agar dapat dipahami.
_Kedua_, banyak orang termasuk saya yang begitu mempertanyakan potensi kerja dari Jurusan Filsafat itu apa saja? Prospek kerja di Filsafat itu tak jelas. Namun, M. Nuruddin menjawab hal tersebut dengan pesan mendalam. Beliau mengemukakan, bahwa pekerjaan para Filsuf adalah pekerjaan yang sebaik-baiknya. M. Nuruddin mengajukan pertanyaan kepada pembaca, perintah pertama yang Allah turunkan kepada umat muslim itu apa? Ya, jawabannya adalah _iqra_(bacalah). Ketika para filsuf begitu serius dalam mengamati, merenungkan kehidupan secara mendalam, berusaha keras untuk memahami kehidupan, ia sudah termasuk dalam kategori ayat _iqra_. Tak semua orang dapat berpikir secara mendalam seperti para filsuf, ialah merenungi kehidupan, alam semesta, lalu menuangkan perenungannya dalam bentuk tulisan. Yang kelak, tulisan tersebut begitu berpengaruh terhadap peradaban yang kita rasakan sekarang. Sebagai seorang muslim, kita pun diuntungkan. Kenapa? Sebab, bila kita merenungi kehidupan, alam semesta, bahkan hal apapun yang ada di dunia dalam rangka mencari keridhaan Allah Swt, kita akan diberikan balasan oleh-Nya berupa pahala.
_Ketiga_, filsafat sering dianggap sesat menyesatkan. Orang yang berpikiran seperti ini, biasanya tak begitu memahami konsep filsafat sebagai ilmu dan filsafat sebagai produk pemikiran. Bahkan, mereka cenderung kontradiktif. Sebab, untuk mengatakan filsafat itu haram, sesat, mereka harus berfilsafat/merenungkan argumen-argumennya secara mendalam, radikal, sistematis. Filsafat sebagai ilmu, memiliki tujuan awal ialah menuntun manusia untuk berpikir dengan benar, mencari kebenaran, mencintai kebijaksanaan/ilmu. Filsafat itu sebetulnya adalah alat yang dimana pastilah fungsi ataupun ketepatan penggunaan alat tersebut, bergantung pada penggunanya.
So, bijaklah dalam mengemukakan pendapatmu!
Komentar
Posting Komentar