Logical Fallacy part 1

 *Contoh sederhana mengenai logical fallacy melalui cerita fiksi*


Dalam hirup pikuk kehidupan, seorang mahasiswa bernama Faza berkuliah di UIN Sunan Gunung Djati, jurusan Akidah dan Filsafat Islam. Baginya, dunia diskusi ilmiah dalam kehidupan sehari-harinya bukanlah hal yang asing. Mulai dari perbincangan seputar ontologi, epistemologi dan aksiologi yang nantinya terklasifikasi isi pembahasannya. 


Saat itu, ia tengah menjalani diskusi ilmiah bersama rekan sekelasnya. Ia mendapati diskusi ilmiah seputar ketuhanan. Memperbincangkan apakah keberadaan Tuhan itu bisa dibuktikan secara ilmiah ataukah tidak. Ada mitra diskusi yang mengemukakan argumen seputar ketuhanan, bahwa ia tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Sebab, syarat agar sesuatu itu dapat disebut ilmiah ialah melalui rangkaian logico-hipotetico-veritikatif (wajib dibuktikan secara empiris).


Sedangkan di sana, Faza merasa tak sepakat, bila kebenaran ilmiah satu-satunya yang bersifat pasti ialah sesuatu yang melulu dapat dibuktikan secara empiris saja. Baginya, untuk menentukan sebuah kebenaran itu haruslah sesuai dengan objek yang dikaji. Bila ada dzat atau sesuatu yang berwujud fisik, maka ia haruslah dikaji dengan penalaran dan pembuktian empiris. 


Sedangkan wujud dari Tuhan ialah metafisik, hal yang wujudnya tak bersifat inderawi. Tapi, ia niscaya ada. Faza mencoba membuktikan bahwa keberadaan Tuhan yang berwujud metafisik, dapat dibuktikan secara rasional. Baginya, kebenaran rasional pun sudah termasuk kebenaran ilmiah, untuk membuktikan keberadaan sesuatu yang bersifat metafisik. 


Singkat cerita, diskusi ilmiah berjalan sengit. Gagasan dengan gagasan saling mencoba untuk menguatkan argumentasinya yang diajukan. Kedua belah pihak yang kian menawarkan sebuah argumen untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan klaim dari diri sendiri ataupun orang lain. 


Saat mitra diskusi Faza merasa terpojok, sudah tak ada bahan untuk membantah argumen-argumennya Faza, ia terjatuh dalam lubang kesesatan berpikir. Serangan terhadap pribadi/ad hominem mulai ia bawa. Ia berkata, "Siapa Anda, berani ngomong kalo wujud Tuhan itu bisa dibuktikan secara ilmiah? Apakah Anda Saintis? Ahlinya?". Lalu ia menambahkan lagi ucapannya "Saya rasa tak perlu mengikuti argumen Anda tentang kebenaran Tuhan yang dapat dibuktikan secara ilmiah, karena Anda orang fasik, tolol, goblok". 


_____


*Penjelasan ringkas, bukan fiksi*


Cerita di atas mencoba menggambarkan contoh secara sederhana tentang logical fallacy atau cacat dalam berpikir. Biasanya hal ini kerap terjadi dalam ruang diskusi ilmiah. Bahkan, dalam ruang lingkup masyarakat, ada pula orang-orang yang terjebak pada hal-hal semacam ini. 


Logical Fallacy ialah ilmu yang mempelajari tentang kategori-kategori sesat dalam berpikir. Yang mana, apabila ia dinormalisasi tentu akan memberikan dampak yang buruk. Dampaknya adalah munculnya diskusi yang tidak sehat. Emosional menguasai rasio secara penuh, sehingga pada awalnya diskusi dijalani untuk mencari pengetahuan, memahami pengetahuan, ia berubah menjadi fenomena yang merusak hal tersebut. 


Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengetahui beberapa kategori logical fallacy yang boleh jadi kerap dijumpai di lingkungan sekitar kita. Saya merujuk buku berjudul "Logical Fallacy" karya M. Nuruddin. Berikut beberapa kategorinya :


1. Ad hominem

Seperti yang telah dijelaskan secara ringkas di atas, ia merupakan fenomena dimana kedua belah pihak pada awalnya sedang menjalani diskusi ilmiah, guna mencari dan menegakkan kebenaran. Tapi pada akhirnya, ia malah terjebak dalam lubang kesalahan berpikir. 


Ad hominem pun terbagi menjadi 4 macam :

- Mencela kepribadian :

Misalnya ada seorang tokoh yang memiliki pandangan, bahwa Syi'ah itu bukanlah kelompok yang keluar dari golongan agama Islam. Memang, masalah ini cukup menuai kontroversi/sering menimbulkan perdebatan. Lalu, karena kita melihat Tokoh tersebut berpendapat demikian, yang seharusnya argumen dibalas argumen, sang lawan bicara atau orang-orang yang melihat, mulai mencurigai kepribadiannya bahkan mencelanya. Lawan bicara langsung mengatakan bahwa Tokoh tersebut adalah orang munafik, antek asing yang dibayar/sogok. 

- Menyinggung kondisi seseorang :

Mungkin beberapa dari para pembaca pernah menemui orang-orang yang argumen-argumennya tak rasional, disebabkan oleh kondisi mentalnya. Contoh : Sebutlah si A sedang mengobrol dengan B. A mengemukakan argumennya. Lalu B pun sama, tapi bedanya argumen yang ia sertakan itu sambil marah-marah, bahkan cenderung mengarah pada serangan personal. Dengan demikian si A mengatakan, wajar (yang membenarkan argumen lawan bicara) si B demikian, karena kondisi mentalnya lagi drop. Ketika kita berkesimpulan seperti itu, ia sudah terjatuh dalam kesalahan berpikir.

- Menyatakan frasa "kamu juga" :

Perlu diketahui bahwa antara argumen, dengan hal yang dilakukan oleh yang menyampaikan tersebut merupakan kedua hal yang berbeda. Misalnya si A mengatakan "shalat itu wajib, sebab ia merupakan perintah dari Allah Swt Yang Maha Agung". Lantas si B ngomong "ngapain ngikutin omongan si A, dia aja ga shalat". Contoh seperti itu sudah menunjukkan pada kita salah satu contoh dari kesalahan berpikir. 

- Meracuni sumur :

Maksud dari "meracuni sumur" di atas ialah upaya kita atau mitra bicara untuk menghilangkan kepercayaan orang lain, agar argumen-argumennya tak dipercaya. Seperti bilang "gausah percaya dan ngikutin omongan si A, wong dia aja ga shalat". 


Itulah penjelasan ringkas kali ini seputar salah satu dari Logical Fallacy yang kerap kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat dan cmiiw!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjelasan ringkas dari buku "Dasar-dasar akidah ahlussunnah wal jama'ah" part 1

Refleksi atas Filsafat

Motivasi untuk menumbuhkan kebiasaan baca buku